Senin, 13 Mei 2013

Stop Press!!! // Seminggu Banjir di Rumah



Tanggal 17 Januari seperti biasanya aku pergi kerja pagi2 sekali namun hujan lebat terus turun. Kebetulan angkot yang aku tumpangi itu mau mengantar kami melalui jalan tol tiba ditempat yang kami tuju.
Sayangnya setiba di sana hujan yang semakin lebat memperlambat jalan aku dan ternyata banjir sudah melanda tempat kerjaku hingga aku tidak sampai ke tempat, tiba2 HP ku berdering dan ku angkat ternyata bagian adm mengatakan hari ini libur karena banjir, lalu aku kembali melalui jalan yang panjang dan angkot sudah tidak bisa jalan lagi karena banjir semakin tinggi, aku putuskan untuk berjalan di tengah banjir. Hujan yang deras dan banjir yang semakin tinggi terus mengikutiku hingga sampai ke rumah.
Ternyata rumahku juga sudah mulai masuk air semata kakiku.

Sedang kami menaikan barang2 yang mudah hancur kena air ke tempat yang lebih tinggi, air pun terus mengalir dan banjir pun semakin tinggi dengan cepatnya hingga kami pun membiarkan yang tidak dapat kami angkat lagi terendam air. Kini air sudah hampir selutut aku.
Aku dan mama ku pun mengungsi ke tempat adikku yang tidak kena banjir. Rumahnya tidak jauh dari rumahku.

Tiba2 tetangga sebelah adikku meminta tolong karena kakak perempuannya sakit perdarahan. Wajahnya sudah pucat dan lemah sekali, adikku pergi ke kelurahan yang kebetulan tidak jauh dari rumah untuk minta perahu dan tim medis membawa tetangganya yang sakit ke rumah sakit.
Ternyata tidak ada tim medis di sana dan perahu karet pun tidak ada karena sedang dipakai untuk menolong warga lain yang kebanjiran. Tak seorangpun bergerak cepat untuk menolong hanya berkata tidak ada lagi perahu lalu sibuk mengobrol satu sama lainnya. Beruntung masih ada tim SAR yang kebetulan datang dan segera adikku minta tolong tim SAR. Akhirnya tetanggaku pun segera dibawa ke rumah sakit dengan perahu karet didampingi adik2 nya dan adikku.

Rumah adikku bertingkat dan kami sudah siap untuk tinggal di atas karena air terus semakin tinggi.Barang2 di rumah adikku pun mulai kami angkat ke tempat yang lebih tinggi dan listrik pun padam.
Sore hari, adikku belum pulang dari rumah sakit dan HP nya tidak aktif, kami semua kuatir terjadi sesuatu dengan tetangga kami. Akhirnya adikku menelpon istrinya dan mengatakan tetangga kita sudah ditangani tim medis dan tinggal di rumah sakit untuk sementara hingga sembuh.
Kami pun lega mendengarnya lebih2 lagi setelah adikku pulang dengan adik tetangga yang laki2. Bajunya sudah basah semua karena banjir disepanjang jalan menuju rumah sakit itu sedadanya. Untunglah Rumah Sakit tidak banjir. Dalam keadaan lelah dan lapar mereka pun disambut istri adikku dengan semangkuk mie ayam hangat :) Malamnya air pun masuk ke dalam rumah adikku semata kakiku.

Hari kedua air semakin tinggi masuk ke rumah adikku lewat dari mata kaki ku. Semua tetangga pun kebanjiran. Ada yang mengungsi ke hotel, ada yang mengungsi ke rumah kerabat yang tidak kena banjir.
Hanya ada lima keluarga yang masih bertahan tinggal di dalam rumah kami. Mama ku diungsikan ke rumah adikku yang lain di Tangerang berikut anak2 adikku. Kini di rumah hanya tinggal aku, adikku dan istrinya.

Wah, bagaimana nasib rumah ku sendiri? Ternyata adikku sudah memindahkan kasur ke tempat yang lebih aman hanya satu kasur yang tidak selamat. Lemari semua terendam hingga rak ke dua, dan aku menyelamatkan surat dokumen keluarga ke tempat tidur ku di tingkat atas.

Air PAM masih mengalir dan kami tarik selang sambung menyambung hingga panjang dari rumah ku ke rumah adikku. Ia menampung di gentong besar dan bak plastik besar serta ember2 supaya bisa dipakai untuk mandi, cuci piring dan keperluan lain. Setelah penuh kami pun membagikannya pada tetangga yang butuh dan mereka pun mengisi gentong mereka hingga penuh. Namun sore hari air PAM kecil sekali hingga kami tidak kebagian air setelah air di gentong dibagikan ke tetangga. Sore itu pun aku terpaksa tidak mandi karena tidak cukup air.

Hari ke tiga, air PAM sama sekali tidak keluar. Syukurlah hujan, hingga kami menadah air hujan di tempat2 yang bisa kami pakai untuk menyimpan air. Istri adikku sempat mencuci baju yang sudah se gunung :) tetangga yang gentong nya sudah penuh air PAM sama sekali tidak menawarkan sedikit pun untuk kami bahkan mereka menyarankan untuk memompa manual yang kebetulan masih ada di rumah ku, ide yang baik. Lalu aku segera pulang coba membuka pompa manual dan masih bekerja dengan baik sayang air nya agak kotor walau bening warnanya.Setelah hujan reda kami pun bolak balik mengambil air yang dipompa manual lalu menyaringnya dengan bekas penyaring air bersih dan air pun bisa digunakan untuk mandi dan sebagainya. Malamnya hujan turun lagi dan aku menadah hujan lagi hingga penuh semua tempat dan tidak kekurangan air lagi. Terima kasih Tuhan.

Hari ke empat, air tidak lagi menjadi masalah walau air PAM mati. Sedang kami asyik mengambil air di rumah ku, adikku bicara banyak pada satpam pabrik disebrang rumah ku. Ternyata mereka tidak dapat makanan dari kelurahan dan sekarang mereka mulai kelaparan. Untung nya mereka masih ada sisa uang di tangan jadi mereka bisa bertahan dan mereka meminta penggorengan untuk memasak lalu kami berikan. Adikku pun lapor bersama dua orang tetangga lain ke Kelurahan untuk meminta jatah santunan. Sayang mereka mengatakan kata yang tidak mengenakan hati, namun mereka dengan tenang dan sopan tetap meminta, akhirnya pun dapat walau hanya bungkusan nasi kecil-kecil yang tentunya tidak cukup untuk orang dewasa makan dan diberikan pada satpam untuk makan siang.

Siangnya istri adikku dapat telepon dari teman2nya yang ingin membantu, lalu adikku menerimanya dengan senang hati bantuan tersebut untuk diberikan kepada para satpam pabrik sekitar rumah kami yang tidak mendapat santunan. Dibantu oleh tetangga lain yang kebetulan pekerja pabrik sekitar rumah itu juga bersama para satpam mereka menerima bantuan dari group teman2 alumni sekolah dan gereja kami. Lalu dibagikan kepada mereka semua. Bala bantuan tidak bisa sampai ke tempat kami dan tempat yang lain yang ingin di bantu jadi mereka yang pergi memberikannya melalui banjir yang dalam menuju tempat yang akan di bantu. Aku dan istri adikku beserta istri2 tetangga lain membuka dapur umum untuk satpam. Ada satpam berhasil menemukan ikan besar lalu aku bersihkan dan goreng untuk mereka. Wah, rasanya hari itu berkat melimpah sekali. Satpam pun tidak kekurangan makan dan minum dan dapat gantian baju pula dari santunan group alumni adikku :)

Hari ke enam, air PAM nyala walau masih kotor tapi syukurlah akhirnya pun bersih walau kecil keluarnya. Kami pun tidak kekurangan makan dan minum lagi bahkan rumah adikku pun mulai surut. Kami pun bersih2 rumah adikku dan menyiramnya dengan air karbol setelah bersih agar kuman mati dan di pel hingga kering. Lampu masih mati, kami pun sudah kehabisan lilin, adikku dan istrinya pun pergi mencari lilin. Di luar daerah kami sudah pada kering, sayang lilin yang kami cari susah didapat, namun akhirnya dapat juga pada malam harinya.

Hari ke tujuh, istri adikku sudah mulai bekerja di kantor nya. Rumahku mulai surut airnya dan saatnya bersih2 rumahku sendiri. Adikku membantu ku bersih2. Hingga sore hari pun selesai di karbol semua yang terkena banjir. Aku mencuci perabotan rumah tangga yang terendam sehingga mama ku pulang nanti semua sudah bersih.

Hari ke delapan, paman istri adikku meninggal dunia karena kanker dan hari ini di kremasi, jadi aku sendirian yang bersih2 rumahku. Wah, cukup lumayan cape sekali hingga malam baru selesai. Hari ini pun aku sudah tidur di rumah ku sendiri, karena rumahku sudah bersih walau masih banyak barang yang harus di pilih untuk dibuang atau disimpan.

Hari ke sembilan, aku sudah mulai kerja seperti biasa lagi walau kakiku sakit dan bengkak2 karena terlalu lama di air dan kena air karbol waktu bersih2 terlalu lama. Sengsara sekali sakitnya tapi aku bersyukur karena semua itu ada hikmah nya. Di saat kekurangan dan kelimpahan, teman yang sejati dan peduli di saat kekurangan. Mama ku pun sudah pulang dan dia rapi2 kan perabotan yang sudah dicuci bersih kemarin

Satu hal yang ku dapat dari semua yang kualami ini adalah tetaplah tenang dan penuh rasa syukur, kita tidak akan pernah kekurangan karena Tuhan kita baik :)
Posting Komentar