Jumat, 03 Februari 2017

Kalau aku adalah Ahok

Sungguh miris melihat jaman yang sudah terlanjur radikal di negara tempat aku dilahirkan.
Gubernur Ahok dituduh menistakan agama islam padahal dari percakapannya tidak ada unsur menjelekkan agama islam apalagi menistakan agama islam. Yang ada hanya menjelekkan orang politik yang menggunakan ayat suci islam untuk kemenenangan orang politik tersebut. Hanya karena satu orang yang salah paham entah karena orang tersebut kurang pengetahuan atau sedikit tuli tidak jelas atau ceroboh saat mendengarkan yang benar atau karena memang sudah radikal turun temurun membenci dan iri pada cina (warga negara Indonesia keturunan China) sehingga orang tersebut membuat status Ahok Menista Agama?? dengan video terpenggal (dikutip dengan topik tersebut saja) di sosial media sehingga tersebarlah Ahok menista agama islam ditambah lagi ormas radikal yang dipiara pemerintahan sebelumnya ikut memanasi suasana karena memang mereka radikal pada dasarnya anti cina.
Kalau saja aku jadi Ahok. Saat ada negara lain yang mau mengambil Ahok sebagai Gubernur negara tersebut dinegaranya. Tentu saja aku akan menyetujuinya sehingga aku bisa membuat daerahku seperti yang aku impikan menjadi Kota Megapolitan. Dimana tidak ada kaum radikal dan kaum politikus kotor yang mengganggu melainkan semua mendukung pembangunan dan berlomba mewujudkan yang terbaik saat pemilihan Gubernur yang akan datang bukan hanya impian yang tinggi dan janji kosong belaka tapi tidak jadi Gubernur pun tetap mendukung Gubernur yang memerintah saat itu sehingga rakyat pun makmur dalam pemerintahan yang bersih. Pemilihan yang bersih dan saling mendukung walau berkompetisi memperebutkan posisi Gubernur namun diperebutkan secara terbuka dan tidak sikut menyikut ataupun mengambil kesempatan dalam kesulitan calon pemilih.
Namun siapakah aku??? Aku bukan Ahok. Aku cuma seorang wanita tua miskin yang selama hidupnya dicinakan dinegara tempat aku dilahirkan. Aku teringat saat pemerintahan Orde Baru presiden Soeharto dimana nama cina pemberian kakek ku tidak boleh dituliskan dalam akte lahir dan KTP(Kartu Tanda Penduduk) aku pun ditulis WNI (Warga Negara Indonesia) sedangkan yang asli Indonesia disebut Pribumi sehingga saat pergantian KTP ataupun membuat Surat Dokumen harus ada Nilai atau Harga yang dibayar sesuai keinginan petugas yang menanganinya bahkan setiap ada pertentangan ataupun keributan dalam pemerintahan yang menyebar sampai ke rakyat sehingga rusuh dan kerusuhan itupun menyebabkan kerugian bagi WNI Keturunan Cina (G30S PKI, Malari 1974, Kerusuhan Tanjung Priok1984, Kerusuhan1996) sangat miris mereka mengaku kaum pribumi islam terang-terangan mereka teriak "Ganyang Cina" dan menjarah serta membakar rumah dan toko milik WNI Cina.
Untunglah Saat Pemerintahan Presiden GusDur KTP tidak ada lagi yang Pribumi ataupun Non Pribumi, semua jadi WNI. Sayang dilapisan masyarakat bawah masih banyak yang belum bisa terima Cina sebagai WNI hingga kini tersentil Kata-kata Ahok terlihatlah masih banyak sekali kaum radikal islam yang mendoktrin rakyat untuk meng"Kafir"kan dan meng"Haram"kan yang bukan islam sehingga pecah demo radikal hingga sekarang.
Sejak kecil aku sudah berhayal "andaikan aku punya sayap" itu disebabkan karena tidak diterimanya aku dilingkungan sekitarku saat aku keluar rumah jalan menuju pasar, sekolah ataupun kemana saja selalu terusik dengan kata cina bahkan sampai di Bali yang katanya daerah netralpun aku tetap dicinakan.
Saat ini pun aku masih berharap kalau saja aku punya sayap, aku akan terbang tinggi dan jauh ke negeri yang menerima aku apa adanya sehingga aku bisa hidup tenang tanpa kuping terasa panas hanya karena dicinakan atau didiskriminasikan.
Impian memang indah namun sulit dinyatakan. Adakah kemungkinan menjadi kenyataan atau nyata saat aku kembali ke Rumah Bapa?




Posting Komentar