Rabu, 01 November 2017

WARISAN KEDEGILAN

Cerpen.
WARISAN KEDEGILAN
Alkisah sebuah Keluarga yang terdiri dari ayah bernama Mojo, ibu Pertiwi dan dua orang putri kembarnya Hindi dan Bindi. Keluarga ibu mewariskan perusahaan besar pada Pertiwi dan Mojo untuk meneruskan dan mengelola perusahaan itu. Mereka hidup berkecukupan dan bahagia.
Satu saat Mojo mengalami kesusahan dalam bisnisnya yang menyebabkan Pertiwi menjadi taruhannya, karena koleganya Alif menginginkan Pertiwi jadi istrinya atau perusahaannya diambil alih, maka dengan terpaksa sang ayah menyerahkan Pertiwi pada Alif demi perusahaan. Akhirnya Mojopun meninggal bunuh diri karena menyesal dan rasa bersalah pada Pertiwi dan keluarganya. Mendengar sang Ayah meninggal, maka Alif melamar Pertiwi untuk menjadi istrinya dan Pertiwi menerima pinangan tersebut daripada menanggung aib dan memberikan perusahaan nya pada Alif untuk melanjutkan perusahaan warisan itu . Ternyata Alif suka berpoligami (suka menikah) bahkan bisa menjual istrinya sendiri demi keuntungan pribadi, Pertiwi pun tidak bisa berbuat banyak pada Alif bahkan melahirkan seorang putri dan diberi nama Isti. Isti kecil yang dimanja oleh kedua orang tua dan saudara tirinya, menjadikan Isti yang lucu, pandai bicara dan berakting.
Alif yang senang berpoligami banyak istri dan anak dimana-mana sehingga perusahaan pada akhirnya mengalami kesulitan karena biaya terlalu besar daripada pendapatan, sehingga ia harus bersiasat untuk mendapatkan keuntungan. Satu kali koleganya diundang untuk makan malam dan dengan sengaja dibawanya Pertiwi untuk melayani Joni koleganya itu. Dalam percakapan bisnis makan malamnya, Alif bernegosiasi dengan Joni koleganya untuk bersenang-senang bersama Pertiwi. Tentu saja Pertiwi sangat kaget saat Alif menyuruhnya untuk melayani Joni, maka terjadi perang mulut kecil tapi Alif dengan kasar memaksa Pertiwi hingga akhirnya Pertiwipun terpaksa menurut dan melayani Joni. Setelah semua sudah terjadi dengan menangis Pertiwi pamit pulang pada Joni tapi merasakan kesedihan Pertiwi, Jonipun merasa kasihan dan berjanji mau bertanggung jawab dan menikahi ibu. Lalu Joni pun berunding dengan Alif dan ternyata Alif setuju menceraikan istrinya dengan syarat. Lalu Alif menceraikan Ibu dan menyerahkan perusahaannya yang hampir bangkrut pada sang kolega Joni dan pulang kenegaranya dengan membawa sejumlah uang hasil rundingan untuk menceraikan ibu. Joni menepati janjinya untuk menikahi Pertiwi sekaligus menyelamatkan perusahaan Pertiwi. Namun kenyataannya Joni adalah seorang pria yang sombong dan kasar. Tidak segan-segannya menghina Pertiwi dan anak-anaknya yang bukan anak kandungnya.
Pertiwi melahirkan seorang putri lagi dari suami barunya dan diberi nama Kristi. Sejak adanya Kristi gadis kecil yang cantik dan manis, Joni menjadi sayang dengan Pertiwi dan Kristi yang dimanja, namun hal ini yang mengakibatkan iri hati Isti pada Kristi, Sikembarpun beranjak dewasa dan menikah. Hindi menikah dengan seorang pemuda bernama Aseng dan Bindi menikah dengan pemuda bernama Bindu. Namun nasib malang terjadi pada sikembar Hindi dan Bindi. Suami sikembar kehilangan pekerjaannya saat adanya krisis global ekonomi dimana perusahaan mereka bangkrut dan mereka beserta anak-anaknya kembali tinggal dirumah ibu Pertiwi dan Joni mempekerjakan Aseng dan Bindu diperusahaannya.
Joni senang dengan pekerjaan Aseng dan Bindu yang bekerja dengan baik diperusahaannya.. Berkat kehebatan bisnis ayah dan menantunya perusahaannya menjadi besar dan terkenal.
Isti dan Kristi pun beranjak menjadi wanita cantik. Isti menikah dengan pemuda bernamaWono dan Kristi menikah dengan pemuda bernama Ucok. Kedua pemuda itu bekerja dicabang perusahaan Joni yang ditangani Aseng. Namun sangat disayangkan sekali rupanya iri hati Isti dapat mempengaruhi Wono dan hal itu diketahui Kristi lalu Kristi menceritakan semua yang ia dengar dengan Ucok suaminya dan Ucok pun menceritakan semua itu pada Aseng tapi Aseng tidak percaya dan tidak curiga sama sekali hingga satu saat Aseng mendapat teguran dari sang Direktur Utama yang adalah mertuanya sendiri Joni barulah Aseng sadar bahwa dia telah difitnah Isti dan Wono tapi nasi sudah jadi bubur Aseng pun dipecat dan digantikan oleh Wono. Aseng dipindahkan jadi pegawai biasa di perusahaan yang dikelola Bindu dan ternyata Wono pun mempunyai sifat tamak dan tidak puas, ia berusaha ingin menguasai perusahaan Bindu untuk digabung menjadi satu perusahaan. Wono mengutarakan keinginannya pada Joni tapi sang Ayah menolak nya bahkan menyepelekannya sehingga Wono merasa tersinggung dan sakit hati. Isti mengetahui suaminya dihina ayah tirinya lalu mengadu pada Ibu Pertiwi agar Ibu dapat bicara pada Ayah untuk meminta maaf pada Wono, namun ternyata Ayah dan Ibu jadi cekcok. Melihat situasi panas Isti tidak tinggal diam, Isti membantu Ibu memanasi suasana sehingga Ayah jadi kalap dan memukul Isti. Melihat Isti dipukul Ayah pun Ibu jadi marah dan mengusir Ayah dan Ayah pun marah besar pada Ibu dan menyerahkan perusahaannya kembali pada Ibu lalu pulang kenegaranya. Mendengar ayahnya pulang kenegaranya Kristi ingin sekali ikut ayahnya yang menyayanginya, lalu Kristi berunding dengan Ucok dan mereka menyetujui untuk ikut kenegara ayahnya dan berusaha disana bersama ayahnya.
Pertiwi mencoba menahan Kristi yang disayangnya namun dia tidak bisa mencegah keinginan Kristi dan Ucok, ditambah mulut manis Isti yang menghibur Ibu agar merelakan Kristi dan keluarganya ikut ayahnya. Memang itulah yang diinginkan Isti agar ia dapat menguasai semua yang ada jadi miliknya. Setiap ada kesempatan tidak disia-siakan oleh Isti dan Wono untuk merayu Ibu dengan perhatiannya semunya pada Ibu yang pada akhirnya berhasil membuat ibu percaya sepenuhnya dengan Isti dan Pertiwi dengan menyerahkan Perusahaan sepenuhnya untuk dikelola Isti dan Wono karena Pertiwi memang tidak pernah bekerja diperusahaannya. Setelah mendapat Perusahaan dari ibunya, Isti, Wono dan anak-anaknya pun pindah ke rumah barunya yang lebih mewah dan megah karena mereka tidak bisa serumah dengan saudara dan ibunya lagi bahkan dalam perusahaan Isti lebih banyak berperan dibelakang Wono. Bindu dan Aseng pun tidak bisa berbuat atas perbuatan Isti yang kadang tidak jujur dengan Wono, juga banyak karyawan yang tidak menyetujui peraturan Wono dan Isti diperusahaannya sehingga banyak karyawan yang protes tapi sayang yang protes akibatnya diberhentikan termasuk Aseng diberhentikan tanpa sebab dan Bindu pun yang protes atas ketidak-adilan yang terjadi pada Aseng ikut diberhentikan. Peran penting Isti dibelakang Wono yang membenci Aseng sangat berpengaruh diperusahaan itu sehingga Isti dengan mudahnya membuat pegawai perusahaan membenci Aseng bahkan menfitnah Aseng bahwa ia sudah memanipulasi gaji pegawai yang menyebabkan pegawai marah dengan Aseng dan berusaha untuk membunuh Aseng dan keluarganya. Kemarahan massa pegawai perusahaan yang ratusan orang jumlahnya datang ke rumah Pertiwi dan memporak-porandakan semua barang, menjarah dan akhirnya membakar rumah tersebut. Bindi dan Bindu sempat menyelamatkan Aseng dan Hindi namun sayang seorang anak Aseng dan Hindi telah menjadi korban dan meninggal dalam penjarahan dan perampokan yang dilakukan massa yang mengamuk pada Aseng dan Hindi. Anak Aseng telah menjadi korban keganasan massa yang mengamuk pada orang tuanya.
Pertiwi hanya bisa menangis melihat rumahnya dibakar dan dijarah massa yaitu karyawan perusahaannya sendiri bahkan lebih sedih lagi melihat cucunya korban keganasan massa karyawan yang membenci Aseng.
Isti dan Wono tidak peduli atas peristiwa yang menimpa ibu dan saudaranya bahkan memutuskan tali persaudaraan mereka. Isti telah memegang kendali perusahaannya, Wono senang Isti istrinya yang memegang perusahaannya sehingga ia punya lebih banyak waktu untuk kesenangannya sendiri. Isti meminta bantuan Ayah kandungnya Alif untuk menjadi partner usahanya dan Alif pun bersedia membantunya. Sayangnya Isti dan Wono hidupnya lebih glamour daripada tekun berbisnis sehingga Saham terbesar dari perusahaan itu pun sudah dipegang ayahnya Alif. Isti dan Wono tidak lagi memegang kendali perusahaan tapi ada banyak saham dari anak-anak Alif yang ikut memegang kuasa perusahaan karena Alif memang memberi kuasa pada anak-anak nya yang lain juga.
Pertiwi dan anak-anaknya yang sudah habis-habisan masih mampu bertahan dirumah sederhana dan memulai bisnis baru dikelola oleh Aseng dan Bindu. Hindi dan Bindi pun turut membantu suaminya. Pertiwi merasa bahagia bersama mereka yang rukun dan saling membantu tapi merasa sedih bila mengingat Isti yang tega terhadap saudaranya. Kristi dan Ucok yang sudah mapan diluar-negeri mendengar peristiwa tersebut dari berita dan mereka berusaha mencari dan menghubungi Isti tapi tidak ada kabar dari Isti maupun yang lainnya. Mereka terus mencari tahu kabar ibu dan saudaranya dan akhirnya mereka mendapat alamat baru rumah ibu dan memutuskan untuk  mengunjungi ibu dan saudaranya. Joni ayah mereka pun ikut kembali mengunjungi Ibu dan anak-anaknya. Mereka saling memaafkan dan bersatu lagi dalam keluarga besar.
Demikianlah akhir cerita dari keluarga Ibu Pertiwi, bila kita hidup rukun dan saling membantu kita akan hidup tenang dan bahagia, namun bila iri hati dan kepuasan diri menguasai, Kedegilan hati tidak akan memandang ibu kandung atau saudara sendiri.

Keluarga Ibu Pertiwi bagaikan keluarga Tanah Air Ibu Pertiwi kita Indonesia dengan anak-anak yang dari berbagai keturunan Asia Tengah, Polinesia, Arab, Cina, Eropa dan Lain2. Jika Kebencian, Iri hati dan Ketamakan menguasai tidak akan ada Kedamaian bahkan Kesengsaraan dan Penyiksaan terhadap sesama tanpa memikirkan saudara atau bukan dan Perpecahan antar suku dan bangsa. Kalau hidup rukun dan saling membantu Indonesia akan Makmur Sejahtera.

Maridj.